logo

Sadar Bencana, PTA DKI Jakarta Undang BPBD

Written by aday on .

Written by aday on . Hits: 757

Sadar Bencana, PTA DKI Jakarta Undang BPBD

Jakarta|pta-jakarta.go.id

Banyaknya bencana di Tanah Air, dan untuk menambah pengetahuan mengenai kebencanaan, PTA DKI Jakarta mengundang – sekaligus – dua badan pemerintah yang berkompeten menanganinya, yakni Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Dinas Penangulangan Kebakaran dan Penyelamatan.

Rabu (30/1) acara pelatihan digelar dari pagi hingga sore, bertempat di Aula Kantor Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta untuk pemaparan teori dan halaman depan kantor, untuk praktek.

“Kami sengaja mengundang mereka karena pentingnya sebuah pembiasaan”, ujar Kepala sub Bagian TURT, PTA DKI Jakarta, Harris Rangkuti, S.E., M.M. “ Juga karena ini merupakan salah satu bagian dari Akreditasi Penjaminan Mutu yang sedang digalakkan oleh Mahkamah Agung”, tambahnya.

Pelatihan dihadiri oleh seluruh pegawai, mulai dari unsur pimpinan, para hakim tinggi, hingga staf dan honorer. Acara dibuka oleh Ibu Wakil Ketua PTA DI Jakarta, Ibu Dr.Hj. Djazimah Muqoddas, S.H., M.Hum.

Beliau menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan ini dan selamat datang kepada Sdr. Putut Puji Linangkung, S.STP. dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta beserta seluruh rombongan,. Juga kepada seluruh pegawai, beliau minta “sersan”, serius tapi santai dalam mengikuti pelatihan tersebut.

“BPBD merupakan sebuah badan yang berdiri berdasarkan Undang-Undang No.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. BPBD DKI Jakarta berdiri pada Februari tahun 2011, baru delapan tahun lalu”,papar Putut, selaku Kepala Seksi Pemulihan dan Peningkatan Fisik BPBD, mengawali pelatihan.

“Jakarta merupakan Ibu Kota Republik Indonesia yang memiliki permasalahan kebencanaan yang kompleks. Dengan luas 661,52 km2, 40%nya merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata di bawah permukaan air laut”,.

Ditambahkan, Jakarta juga merupakan pertemuan sungai dari bagian selatan dengan kemiringan dan curah hujan tinggi. Terdapat 13 sungai yang melewati dan bermuara ke Teluk Jakarta.

Lebih mendalam mengenai jenis bencana dan upaya penyelamatan ketika bencana terjadi disampaikan oleh Sdr. Basuki Rakhmad, S.Sos., M.Si. selaku Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Lembaga, didampingi dengan dua rekannya, ibu Qoriatullailiyah, ST, M.T. dan ibu Savra Agnes, S.H.

Pak Bas, demikian beliau biasa disapa, menuturkan bahwa selain banjir, Jakarta juga berpotensi mengalami bencana gempa, cuaca ekstrim, gelombang pasang, wabah penyakit, kegagalan teknologi. “Itu semua merupakan kategori bencana”, tandasnya.

Apa sebaiknya yang harus dilakukan ketika terjadi gempa?

Bila berada di dalam bangunan, segera berlindung di bawah rangka bangunan atau dikolong benda yang kuat (seperti meja, kursi) dengan melindungi kepala dan batang leher, setelah itu keluarlah menuju tempat terbuka menggunakan tangga darurat. Menjauhlah dari jendela kaca dan benda-benda yang berpotensi akan jatuh (Lampu, Lemari, Vas Bunga dll)
Bila berada diluar, cari tempat terbuka yang jauh dari bangunan, tiang listrik, baliho, pohon tinggal dll yang berpotensi roboh.
Bila sedang mengemudi, berhentilah dan menjauh dari jembatan atau terowongan.
Bila berada dipegunungan, hindari lereng dan jurang dan waspadalah dengan reruntuhan batu atau tanah longsor akibat gempa.
Bila berada di pantai, segeralah berpindah ke daerah yang lebih tinggi untuk menghindari apabila gempa berpotensi menyebabkan gelombang tsunami.
Lepas ishoma, pelatihan kebencanaan dilanjutkan oleh Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan, atau yang sering disebut DAMKAR, Dinas Pemadam Kebakaran. Hadir dalam kesempatan pelatihan tersebut, Sdr. Puryantoro dan Sdr. Bambang Ismoyo Joko. Keduanya berbagi materi, dalam teori dan praktek.

Sesi ini dimulai dengan sambutan dari Drs. H.Muhammad Yamin Awie, S.H., M.H., Ketua Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta. Dilanjut pembukaan materi oleh Sdr. Puryantoro.

Lebih dalam, Sdr. Bambang Ismoyo Joko memaparkan bahwa “Sesuai data, kebakaran di DKI Jakarta, pada tahun 2018 terdapat 1751 kali kebakaran – meningkat dibanding tahun 2017 yang hanya 1471 kali. Jika minum obat sehari tiga kali, kebakaran di Jakarta lebih dari itu, rata-rata pada tahun 2018, kebakaran terjadi 4-5 kali dalam sehari”.

Listrik menempati urutan teratas dari penyebab kebakaran, dikuti oleh pembakaran sampah, lalu karena gas. “Namun bila dilihat lebih dalam, penyebab kebakaran adalah karena ulah manusia, yang kurang pengetahuan, kurang pengertian, juga karena kelalaian dan kurang kesadaran akan akibat yang ditimbulkan dari kebakaran”.

Ditambahkan, bahwa kebakaran terdapat 4 jenis. Ini wajib diketahui karena akan mempengaruhi dalam memilih jenis APAR (Alat Pemadamanan Api Ringan) yang akan digunakan.

Acara dilanjutkan dengan praktek, di halaman depan kantor, bagaimana cara menanggulangi kebocoran selang gas, bagaimana bila tidak punya APAR, semua dipraktekkan oleh Sdr. Puryantoro dengan dibantu pegawai PTA Jakarta untuk mencoba secara langsung.

Sadar akan bencana, perbanyak pengetahuan tentang kebencanaan, lalu mulai pembiasaan sejak dini. PTA Jakata, Siap untuk Selamat!! (Asti)

 

Hubungi Kami

Pengadilan  Tinggi Agama DKI Jakarta

Jalan Raden Inten II No. 3, Duren Sawit,
Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta (13440)

Telp:  (021) 86902313

Fax: (021) 86902314

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.