Ketua & Wakil

responsive jquery slider joomla

Kepaniteraan

responsive jquery slider joomla
Peringatan Hari Sumpah Pemuda
PTA Juara I Lomba Kelengkapan data ABS
Pembinaan Teknis

Kita adalah Pelayan

 

 Dr.H.Abd.Manaf, S.H., M.Hum. sedang melakukan pembinaan "Kita adalah Pelayan"

Jakarta|pta-jakarta.go.id

Kalimat sederhana penuh makna terlontar oleh Dirjen Badilag Mahkamah Agung RI, Dr.H.Abd.Manaf, S.H., M.Hum., ketika melakukan pembinaan, sekaligus membuka Acara Pembinaan Teknis Yustisial Kepaniteraan di Lingkungan Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta pada Jumat, 25 Agustus 2017, bertempat Kantor PTA DKI Jakarta.

 

Acara diikuti oleh 70 panitera pengganti dan kasir dari pengadilan agama sewilayah hukum PTA DKI Jakarta, dengan lima hakim tinggi pengawas daerah.

Hadir dalam kesempatan itu, wakil ketua PTA DKI Jakarta, Dr.HJ. Djazimah Muqoddas, S.H., M.Hum., para ketua/wakil ketua Pengadilan Agama sewilayah DKI Jakarta, para panitera Pengadilan Agama.

Bintek yang akan digelar sebnayak tiga angktan ini merupakan hasil kerja sama yang sinergi antara PTA DKI Jakarta dengan PPHIMM Daerah Cabang PTA DKI Jakarta.

Dijadwalkan, setelah acara pembukaan, dilanjutkan dengan materi Pembinaan Tupoksi Kepaniteraan oleh Yang Mulia, Dr.H.A.Mukti Arto, S.H., M.Hum, dan pengayaan dan penajaman kembali, yang akan dipimpin langsung oleh KPTA DKI Jakarta, Bapak Drs.H.Yamin Awie, S.H., M.H.

 

Dalam laporannya, Ketua PPHIMM Daerah PTA DKI Jakarta, Dr.H.Ahmad Fathoni, S.H., M.Hum., menympaikan tujuan diadakannya acara ini adalah untuk transfer ilmu dari para hakim agung kepada pelaksana di tingkat pengadilan agama. Dan juga sebagai penyegaran kembali terhadap ilmu dan tupoksi yang sudah dijalankan selama ini.

“Direncanakan akan digelar pada tiga angkatan, hari ini, untuk panitera pengganti dan kasir, berjumlah 70 orang, 8 September 2017, untuk panitera penganti, berjumlah 70 orang dan terakhir 29 September 2017, untuk juru sita/juru sita pengganti berjumlah 69 orang”, ujar Ahmad Fathoni.

“Sedang untuk pendanaan berasal dari swadaya, hakim dan kepaniteraan seluruh pengadilan agama sewilayah DKI Jakarta”, tegas sang ketum PPHIMM

Juga merupakan dampak dari suatu keprihatinan KPTA Jakarta karena banyaknya pengaduan mengenai adminitrasi yang ditujukan ke PTA DKI Jakarta.

Sambutan KPTA DKI Jakarta

Yamin Awie mengawali sambutannya dengan menyatakan keinginan agar PTA DKI Jakarta menjadi lebih baik, “Mari Kita Ciptakan Hari ini lebih baik dari Kemarin dan Hari Esok Lebih Baik dari Hari Ini”.

“Formasi tempat duduk sengaja dibuat demikian, agar lebih mudah dalam memberikan pertanyaan,  tidak perlu repot-repot menyebutkan nama”, ulas KPTA Jakarta, yang juga dikenal sebagai Bapak Eksekusi ini.

“Boleh lah tegang dan stres sedikit, karena besar harapan kami, sepulang dari acara ini akan memberikan perubahan”, tegas beliau.

Membuka Dengan Ketokan Palu

Abdul Manaf memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada PTA DKI Jakarta yang menggelar acara pembinaan teknis yustisial, “Karena memang ilmu itu harus diulang dan diulang”, tegasnya.

“Model diskusi yang menggunakan kode seperti ini mengingatkan Saya pada masa Hensyah Sahlani dan Yahya Harahap melakukan pembinaan pada peradilan agama. Itu masa akhir tahun 70-an hingga 80-an”.

“Semua peserta serius dan tidak ada ngobrol-ngobrol, pasti ditegur oleh Pak Yahya”, kenang Pak Dirjen.

Lebih lanjut Beliau menyampaikan, dunia peradilan agama di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga masa yakni:

Masa hingga tahun 1976, di mana pengadilan masih dilaksanakan di “emperan” mesjid atau bersebelahan dengan kantor urusan agama, diketuai oleh para kyai, yang istiqomah dan tawadhu.

Masa delapan puluhan hingga tahun dua ribuan, dimana sudah ada komunikasi antara Departemen Agama dengan MA, hingga lahirnya UU No.7 Tahun 1989

Masa sepuluh tahun terakhir, yang mulai ada unsur TI, sudah satu atap dengan MA

Kalian adalah pelayan, merekalah yang merupakan majikan. Kita itu penggarap sawah mereka itu para tuan tanah. Kita pekerja, pelayan para pencari keadilan. Kita harus memberikan pelayan seprima mungkin. “Saya pernah masuk ke sebuah pengadilan, dengan baju apa adanya, tidak ada satu pun yang menegur dan bertanya”.

Di akhir sambutannya, beliau berpesan bahwa dalam menjalankan tupoksi harus memperhatikan “up date” terhadap perkembangan peraturan. Di samping itu harus meningkatkan rasa syukur, karena tunjangan sudah cukup memadai.

Ditegaskan kembali untuk tetap menjaga sikap dan akhlak. “Sebanyak apapun prestasi yang telah kita buat, itu tidak akan dicatat dan diingat. Tetapi satu saja perbuatan tercela kita lakukan, akan mencoreng muka kita. Dan gaungnya, viral dimana-mana dalam waktu lama”.

Akhirnya,  beliau mengetok palu sebagai tanda dibukaanya acara Pembinaan Teknis Yustisial Kepaniteran PTA DKI Jakarta.

Resmi dibuka, acara berlanjut dengan Pembinaan Tupoksi Kepaniteraan oleh Yang Mulia, Dr.H.A.Mukti Arto, S.H., M.Hum.