Ketua & Wakil

responsive jquery slider joomla

Kepaniteraan

responsive jquery slider joomla
Peringatan Hari Sumpah Pemuda
PTA Juara I Lomba Kelengkapan data ABS
Pembinaan Teknis

Pemuda Indonesia Berani Bersatu

Jakarta|pta-jakarta.go.id

Delapan puluh sembilan tahun yang lalu, 28 Oktober 1928, tujuh puluh satu pemuda dari seluruh penjuru tanah air, berkumpul di sebuah gedung di Jalan Kramat Raya, daerah Kwitang, Jakarta. Mereka mengikrarkan diri sebagai satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, yaitu Indonesia.

 

Hari ini (27/10), seluruh jajaran PTA DKI Jakarta melakukan upacara untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda Ke-89 di halaman Kantor Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta, dengan bertemakan “Pemuda Indonesia Berani Bersatu”. Tema yang sama untuk tahun ini bagi seluruh anak bangsa.

Bertindak selaku pembina upacara, Ibu Dr.Hj.Jazimah Muqoddas, S.H., M.Hum., wakil ketua PTA DKI Jakarta dan Sdr. Aris Fuad dipercaya sebagai pemimpin upacara.

Dengan penuh hikmat, sang merah putih berkibar, dipandu oleh tiga petugas pengibar bendera, Sdri. Asima Naslah Panggabean, diapit oleh Sdr. Mamad Sudrajad dan Sdr. Najihul.

Kemudian secara bersama-sama, peserta upacara mengucapkan Pancasila mengikuti ucapan Pembina Upacara, Jazimah Muqoddas.

Dilanjutkan dengan pembacaan Pembukaan UUD 1945 dan Surat Keputusan Kongres Pemuda ke-2, masing-masing oleh Sdri. Dina Sagita, S.S., M.M. dan Sdri. Dina Marissa, S.Kom.

Selanjutnya, pembina upacara yang mendelegasikan kepada Sdri. Ratu Dhiyafah, S.H. membacakan Amanat Menteri Pemuda dan Olahraga RI.

Jika kita membaca dokumen sejarah Kongres Pemuda ke-2, kita akan menemukan daftar panitia dan peserta kongres yang berasal dari pulau-pulau terjauh Indonesia.

Pernah kita membayangkan bagimana seorang Mohammad Yamin dari Sawah Lunto dapat bertemu dengan Johannes Leimina dari Ambon? Pernahkah kita membayangkan bagaimana seorang Katjasungkana dari Madura dapat bertemu dengan Lefrand Senduk dari Sulawesi? Bukan hanya bertemu, tetapi mereka berdiskusi, bertukar pikiran, mematangkan gagasan hingga akhirnya bersepakat mengikatkan diri dalam komitmen ke-Indonesiaan.

Padahal jarak antara Sawah Lunto dengan Kota Ambon, lebih dari 4.000 km. Hampir sama dengan jarak antara Kota Jakarta ke Kota Sanghai di China. Sarana transportasi untuk saat itu, masih mengandalkan laut. Dibutuhkan waktu berminggu-minggu untuk bias sampai ke kota mereka. Alat komunikasi pun masih terbatas, mengandalkan korespondensi melalui kantor pos. Hari ini surat dikirim, satu dua bulan kemudian, barulah sampai di alamat tujuan.

Belum lagi kalau kita berbicara tentang perbedaan agama dan Bahasa. Mohammad Yamin beragama Islam berbahasa Melayu, Johannes Leimena beragama Protestan berbahasa Ambon. Begitupun denan Katjasungkana, Lefrand Senduk dan 71 pemuda peserta kongres lainnya. Mereka memiliki latar belakang agama, suku, Bahasa dan adat istiadat yang berbeda-beda. Namun, fakta sejarah menunjukan bahwa sekat dan batasan-batasan tersebut tidak menjadi halangan bagi para pemuda Indonesia untuk bersatu demi cita-cita besar Indoensia. Inilah yang kita sebut dengan “Berani Bersatu”.

Dalam amanat tersebut juga disampaikan bahwa:

Dalam sebuah kesempatan, Presiden RI pertama, Bung Karno pernah menyampaikan: “Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu Bahasa, satu bangsa dan satu tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir”.

Pesan yang disampaikan oleh Bung Karno ini sangat mendalam khususnya bagi generasi muda Indonesia. Api sumpah pemuda harus kita ambil dan terus kita nyalakan. Kita harus berani melawan segala bentuk upaya yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Kita juga harus berani melawan ego kesukuan, keagamaa dan kedaerahan kita. Ego ini yang kadang kala mengemuka dan menggerus persaudaraan kita sesame anak bangsa. Kita harus berani mengatakan bahwa Persatuan Indonesia adalah segala-galnya, jauh di atas perstuan keagamaan, kesukuan kedaerahan, apalagi golongan.

Mari kita kukuhkan persatuan dan kesatuan Indonesia. Stop segala bentuk perdebatan yang mengarah pada perpecahan bangsa. Kita seharusnya malu dengan para pemuda 1928 dan juga kepada Bung Karno, karena masih harus berkutat di soal-soal ini. Sudah saatnya kita melangkah ke tujuan lain yang lebih besar, yaitu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Akhir upacara ditandai dengan pembacaan doa oleh H.Sajadi, S.H., M.H., wakil panitera PTA DKI Jakarta.

 

as-end

Hakim PTA Jakarta

free joomla slider module

Kesekretariatan

responsive jquery slider joomla

Laporan Perkara

web link

 

Pengunjung

10116894
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
3460
4723
28449
10058914
68223
56104
10116894
IP: 54.92.194.75
2017-12-16 14:37